Minggu, 02 Oktober 2016

Tahun Baru Hijriah: Sucikan Hati, Bersihkan Jiwa



Assalamu'alaikum wr.wb.

Happy Islamic New Year 1438 H! 


Tahun baru Hijriah, kalender yang Rasulullah pakai sebagai acuan. Alangkah lebih spesial rasanya jika kita mengindahkan hari baru ini dengan niat untuk berubah menjadi lebih baik, lebih baik lagi, lebih baiiik terus. Sungguh sayang sekali kalau di tahun baru ini kita masih saja sama seperti sosok yang sebelumnya, masih saja melakukan hal itu-itu saja, tidak ada perubahan tidak ada perkembangan. Biasanya, orang - orang itu bersemangat banget di tiap tiap 'hari pertama'. Tekad kuat, niat luar biasa hebatnya, wajah bersih berseri, senyum merekah mempesona, lisan tak henti - hentinya mengeluarkan kata - kata bermanfaat -baik untuk diri sendiri maupun orang lain-, alat gerak tubuh ini masih mampu melakukan apa saja, hati ini tak tergoyahkan, akal pikiran penuh dengan ide cerdik cemerlang. Bikin puluhan hingga ratusan bucket-list, cinta dan kasih sayang pada sesuatu -atau seseorang- tidak berkurang sejengkal pun. Hari pertama dalam pekan, bulan, bahkan tahun, hari pertama menjadi siswa SD, SMP, hingga SMA, hari pertama kuliah, hari pertama sebagai ini dan itu, mengikuti satu dan lain hal, hari pertama jadian, hari pertama menikah hingga hari pertama punya anak, every body has an outstanding power in theirselves to do anything on their very first day. So, supaya tahun baru hijriah ini lebih banyak mendatangkan benefit kedepannya, yuk kita sucikan hati dan bersihkan jiwadengan Tazkiyyatun Nafs.

TAZKIYATUN NAFS


Tazkiyatun Nafs tuh apa, sih?

Tazkiyatun Nafs terbentuk dari kata At-Tazkiyah dan An-Nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Kata Tazkiyah sendiri terbentuk dari kata yang menjadi Zakka-Yuzakki-Tazkiyatan yang artinya menumbuhkan, mengembangkan, memperbaiki, membersihkan, mensucikan dan menjadikannya jadi baik. Sedangkan kata An-Nafs bisa berarti ruh, nyawa, jiwa, atau nafsu. Jadi, Tazkiyatun Nafs ini berarti menyucikan hati dan membersihkan jiwa dari sifat - sifat tercela, dan mengisinya kembali dengan ilmu - ilmu bermanfaat serta pengembangan diri menuju lebih baik.
Tazkiyatun Nafs ini merupakan perbuatan dan sebagai karakter wajib bagi seorang muslim. Kita perlu mensucikan diri agar tidak melakukan perbuatan sia-sia dan mendapat gelar menjadi orang bodoh. Sebelum kita di hisab di akhirat, adakalanya kita harus meng-hisab diri sendiri. Mengingat - ingat kejadian sebelumnya yang telah kita tempuh, hal - hal yang diperbuat, jikalau itu buruk perlulah diperbaiki. Sucikan diri diawali dengan memberikan cermin pada diri sendiri.
Seorang mukmin menjadi karakter ketika sering ber-introspeksi diri, menghisab diri sendiri dahulu di dunia agar pas di akhirat sudah terbiasa. Setelah itu, apa yang perlu dilakukan, bagaimana caranya menjadi lebih baik lagi? Sering - sering berdzikir adalah salah satu nya jika telah melakukan dosa, serta motivasi diri amat sangat dibutuhkan agar menjadi lebih baik kedepannya. Jangan sampai melakukan perbuatan sia-sia lagi hingga menjadi orang yang merugi. Orang yang merugi itu, menyangka bahwa mereka tidak melakukan hal-hal yang menistakan diri mereka, yang membuat mereka berdosa lebih banyak, whereas actually the case is what they do doesn't bring any good in the form of anything.

Apa esensinya sih tazkiyatun nafs itu?

Istiqomah adalah buah dari tazkiyyah. Teguh pada suatu pendirian, perbuatan, dll. Ketika sudah bermuhasabah terus menerus, kita bisa Istiqomah dalam muhasabah. Buah nya yang lain yaitu perlakuanya yang baik terhadap Allah, manusia, juga makhluk lain di muka bumi ini. Adabnya kepada Allah berupa komitmen dalam berlaku sesuai perintah-Nya, mengerjakan kewajiban serta menjauhi segala larangan yang menyebabkan murka Allah, termasuk mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk berjihad dijalan Allah, tak lupa 'tuk menanamkan perilaku dan perbuatan terpuji. (Al-Mustakhlas fii Tazkiyatul Anfus, melalui http://muslim-g.blogspot.co.id/)

Nah udah tau kan kalau kita perlu banget melakukan hal baik dan membersihkan diri sendiri dari hal tercela, lalu bagaimana caranya?

1. Tadzkiir (peringatan dari Allah)
Kita seharusnya berseru terus karena dikasih peringatan dengan adanya liqo, teman yang baik, serta tarbiyyah islamiyyah. Tadzkiir dapat datang dari orang tua yang baik, mendengarkan ta'lim, termasuk hidayah bagi Allah. Kenapa tadzkiir ini diletakkan dalam poin pertama? Perlu disadari bahwa dengan peringatan lah yang seringkali mencabuk hati, dengan adanya peringatan dari orang lain semakin ampuh mendorong diri ini tuk melakukan hal baik.

2. Ta'lim (mempelajari kitab Allah dan Sunnah)
Kita harus menutrisi jiwa dengan mengisi akal kita dengan hal-hal baik. Sering membaca dan mengkaji al-Qur'an beserta Sunnah-sunnah, tak lupa membaca buku yang bermanfaat.

3. Tazkiyyah (Membersihkan hati serta memperbaiki tingkah laku)
Nah, kenapa yang kali ini diletakkan di poin terakhir? Karna.. karnaa.. karnaaa... jarang orang yang melakukannya. Jarang orang yang mau mencela diri sendiri, pada umumnya setiap orang merasa sudah baik. Manusia itu terlalu sombong, sifat kecongkakkan manusia ini menyebabkan 'moh bermuhasabah, ogah-ogah-an bermuhasabah diri sendiri. Makanya pernah dikatakan bahwa jangan sampai manusia dibuat dari emas, karena dibuat dari tanah liat saja sudah sombong.
Allah memberikan fii'l amr (perintah). Allah benar-benar melihat perbuatan kita. Apa yang kita lakukan semata-mata untuk akhirat kita sendiri. Jarang sekali manusia takut pada Allah, padahal kita harusnya melihat diri kita sendiri dan melakukan introspeksi diri. Sebagai manusia harus punya karakter, dengan cara meletakkan cctv dalam hati kita, sebagai cermin diri kita sendiri.

"Jangan sampai melakukan hal sia-sia, karena dunia itu ibarat dari azan hingga sholat. 7 menit. Cepat, singkat."
Ketika kita lahir, kita di azankan. Ketika kita mati, di sholatkan. Seolah-olah waktu kita hidup hanya sebatas itu. Dunia itu sempit sekali. Jaraknya cuma sebentar dari azan ke sholat. Mungkin hanya 10 menit. Jadi, umpamanya, the case is, bagaimana kita menggunakan 10 menit ini dengan baik? Buat apa melakukan hal sia sia dalam waktu singkat dan sangat cepat ini? Setelah sholat akan ada lagi kehidupan. Kita melakukan hal baik hari ini sbg parameter agar besok melakukan hal baik lagi. Tapi... bisa jadi sorenya melakukan hal buruk. Manusia itu sangat lemah, mudah dipengaruhi. Jangan sampai kita mau dipuji tapi enggan memuji orang lain. Kita gatau di esok hari akan ada apa.... Bisa aja kematian datang.

N.B: Terimakasih pada murobbi halaqah saya, Kak Uswah, yang telah menjadi penyumbang materi dan sebagai sumber ilmu utama dari post ini :)

Bekasi, 1 Muharrom 1438 H

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar